Serdadu kuning (everyone has special thing that someone else does not)

Ini adalah cerita yang tercetus waktu gw pengen tidur siang tp malah gk bs tidur. Di baca ya, semoga bermanfaat😉

Daun-daun berwarna hijau telah mengganti jubahnya dengan warna kuning, siap meluncur ke atas tanah. Angin mengepakkan sayapnya semakin kencang dan lebar, para serdadu kuning pun telah banyak yang meluncur ke atas tanah. Semua menyebar sama rata, menggeluti tanah yang tak beraturan. Salah satu daun kuning bergumam “Fyuh.. sampai juga ke tanah. Kira-kira nanti tugasku apa ya?”

Daun kuning menari ke sana kemari mengikuti irama angin yang datang. Saling bersautan satu sama lain. Setiap pagi ia menyapa embun yang selalu membangunkannya di pagi subuh. Menyapa tanah yang menjadi teman mimpinya. Berkirim salam dengan lebah yang hendak melaksanakan tugas penyerbukannya. Berbalas senyum dengan pelangi dan berteriak pada matahari bila ia terlalu menyilaukannya. Hari-hari terasa begitu indah bagi si daun kuning. “Semua tampak melaksanakan tugasnya dengan baik” katanya.

Kini musim telah berganti, saatnya musim hujan menjalankan tugasnya. Daun kuning masih tergeletak di atas tanah, ia tampak lesu dan tidak sesemangat dulu lagi, saat baru saja ia tiba di tanah. Setiap hari ia masih menyaksikan rutinitas yang dilakukan lebah, tanah, embun, pelangi dan matahari. Ia mulai merasa bahwa hidupnya tidaklah berguna bagi kehidupan ini, ia hanyalah seonggok daun kering kuning yang kusam yang tidak mampu lagi menghasilkan klorofil untuk makan para pepohonan. Hanya menyusahkan saja, tidak berguna, di sapu dan kemudian di buang oleh petugas kebersihan.

Matahari kini tidak menampakkan wajahnya, warna hitam kelabu memeluk erat langit. Tak lama kemudian hujan pun turun. Membasahi daun kuning yang telah berputus asa. Dalam keputusasaannya ia bertanya pada hujan “Hujan, apakah kau menangis?” hujan menjawab “Ya aku memang menangis”. “Lalu apakah kau juga bersedih?” hujan kembali menjawab “Tidak, aku tidak bersedih, aku memang menangis, tapi aku menangis bahagia karena air mataku dapat berguna bagi kehidupan ini” daun kuning kembali berkata “oh begitu.. Aku ingin menjadi sepertimu hujan, air matamu saja dapat berguna untuk kehidupan ini karena bagiku tak mungkin menjadi matahari yang menyinari bumi, menjadi lebah yang membantu para bunga, menjadi embun penyejuk pagi, menjadi pelangi yang memberikan warna dalam hidup. Aku memang tidak berguna ya… L “

Hujan segera memotong ucapan daun kuning “Hei kata siapa kamu tidak berguna nak? Kamu adalah sumber segala kehidupan, tahu tidak? Kamu nantinya akan terurai dengan bantuan pasukan kecil di tanah yaitu para mikroorganisme dan decomposer, lama kelamaan tubuhmu akan banyak mengandung unsur hara yang akan berperan untuk mendirikan pohon yang kokoh, menumbuhkan generasi barumu, daun hijau, menghasilkan bunga dan buah dan tentunya semua hal itu sangat diperlukan oleh mahluk hidup di muka bumi ini. Ingat  tanpa dirimu tanah tak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, kamulah awal dari siklus kehidupan ini yang bila tanpa dirimu lebah tak dapat membantu bunga, embun tak bisa menyapa pagi hari yang cerah, matahari takkan bersemangat memancarkan sinarnya dan senyum pelangi takkan seindah itu bila pepohonan tidak tumbuh dengan baik karena tidak ada dirimu. Ingat ya, semua tercipta di dunia ini memiliki kelebihan dan tugasnya masing-masing, hanya saja waktunya yang berbeda-beda, tidak ada yang tidak berguna, Sang Pencipta menciptakan kita semua ini pasti ada tujuan yang baik. Nah, tetaplah jadi dirimu sendiri nak, jalankan tugasmu dengan baik, sepertinya waktumu akan tiba, sekarang giliranmu, semangat! Hasilkan banyak unsur hara ya, agar hidup ini menjadi lebih indah lagi😉 Sepertinya air mata bahagiaku telah habis, aku pergi dulu nak, pelangi akan menampakkan senyumannya,  sampai bertemu lagi ;-)” Hujan meyudahi petuahnya. “Siap pak hujan! Akan aku jalani tugas dan hari-hariku dengan penuh semangat agar semua mahluk di muka bumi ini dapat tersenyum bahagia” Daun kuning menjawab dengan penuh semangat.

Seperti yang terkandung dalam surat Qs. Sad 38:27

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah….”

So be your self, believe your self and love your self😉

Created by:

Putri Elsari Rahmayana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s