Minat Baca Komik

Komik menurut pandangan orang Jepang

Menurut informasi masyarakat Jepang yang terkenal sangat hobi membaca itu pada umumnya adalah penggemar berat bacaan komik. Saking gandrungnya masyarakat negeri Sakura ini terhadap jenis bacaan ini hingga hampir 50% industri perbukuan mereka dikuasai oleh buku-buku berjenis komik. Bahkan saat ini ada semacam kecenderungan baru dalam industri perbukuan di negeri ini, semua hal yang menyangkut kehidupan mereka, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik hingga petunjuk cara masak-memasak dibuat dalam bentuk buku komik. Buku-buku serial komik semacam Doraemon, Sailor Moon, Dragon Ball, Candy-Candy, atau Krayon Sinchan yang saat ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa serta telah dibuatkan serial animasinya, di Jepang bukan hanya digemari oleh kalangan anak-anak tetapi juga oleh para orang dewasanya. Bahkan mengenai serial komik Krayon Sinchan yang i ramai dipersoalkan oleh masyarakat kita karena dianggap adegan-adegannya dinilai banyak yang vulgar serta menjurus ke arah pornografi, walaupun tokoh utamanya anak-anak, namun sejatinya di Jepang sendiri komik tersebut merupakan komiknya kalangan orang dewasa. Jadi seperti serial kartun Burt Simpson, walaupun salah satu tokohnya anak-anak tetapi serial tersebut sesungguhnya bukan diperuntukkan untuk kalangan anak-anak, setidaknya yang kurang dari usia 12 tahun. Dengan demikian wajar saja jika di dalam serial Krayon Sinchan terdapat sejumlah adegan yang ramai diributkan itu, serta salah kita sendiri jika serial animasinya disuguhkan kepada anak-anak. Kemudian, seperti dilaporkan dalam buku Jepang Dewasa Ini (1996), di negara tersebut terdapat sebuah majalah mingguan komik yang mempunyai sirkulasi sebanyak 4 juta eksemplar lebih setiap kali terbit. Dan yang cukup mencengangkan, mereka yang menginginkannya harus pesan terlebih dahulu kepada para agen atau toko buku. Kegandrungan anak-anak Jepang melahap jenis bacaan komik ternyata tidak membuat mereka menjadi rusak minat bacanya atau terganggu aktivitas belajarnya. Setidaknya hingga setakat ini penulis belum menemukan hasil-hasil penelitian yang menyatakan hal yang dikhawatirkan itu.

Minat baca terhadap Komik
Sementara di Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Dian Rohaeni lewat skripsinya yang berjudul “Bacaan Anak-anak Bercorak Komik: Analisis Deskriptif atas Minat Baca Anak-anak pada Komik Elex Media Komputindo” (FSUI,1995), antara lain menyatakan sebanyak 91,5 % dari responden penelitiannya (100 anak-anak) dapat dikatagorikan sebagai kelompok komik-mania atau penggemar berat bacaan komik. Dan yang lebih penting lagi Dian Rohaeni juga tidak menemukan fakta bahwa anak-anak yang menggemari jenis bacaan komik tersebut hancur minat bacanya terhadap bacaan non-komik. Kegemaran mereka membaca komik umumnya beriringan dengan kegemaran membaca buku-buku non-komik, termasuk buku-buku pelajaran. Kemudian aktivitas belajar anak-anak penggemar bacaan komik tersebut juga sama sekali tidak terganggu, apalagi menjadi amburadul karenanya.

Melihat fenomena ini, adakah telah terjadi pergeseran sudut pandang terhadap komik sehingga toko-toko buku seperti Gramedia membuat kebijakan semacam itu? Atau, apakah ini juga menjadi pertanda bahwa mitos tadi sudah mulai pudar? Ada bagusnya kita urai dan analisa barang sekejap.

Periksa punya periksa, atas dasar catatan seminar bertemakan “Pengaruh Komik terhadap Minat Baca dan Imajinasi” yang di laksanakan di Jakarta, pada umumnya para nara sumber pada seminar itu percaya bahwa jika ditinjau dari sisi positifnya, komik bermanfaat meningkatkan minat baca dan daya imajinasi anak-anak. Henny Supolo, misalnya, dengan bangga mengangkat contoh bahwa anaknya mengenal konsep keseimbangan milik filosofi China Yin Yang lewat komik Kura-Kura Ninja. Atau Jaya Suprana yang mengambil contoh dirinya sendiri yang mengaku mengenal seluk beluk cerita Mahabharata justru bukan dari buku-buku pelajaran di sekolah melainkan dari komik Mahabharata yang ditamatkannya saat berumur enam tahun.
Di luar seminar, pada sekitar medio dekade tahun 1980-an, sebagian besar siswa SMP di Jakarta pernah diwajibkan membeli buku komik bertema perjuangan “Serangan Umum 1 Maret” .

Segi Positif dari Komik
Depdiknas. Atas dasar banyak pengalaman pembacanya, komik perjuangan itu dianggap begitu sangat berbicara dan memberikan ilustrasi yang lebih jelas bagi para siswa untuk mengetahui seluk beluk peristiwa heroik di Yogya itu ketimbang jika membaca buku teks PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, sekarang Pelajaran Sejarah) yang sarat dengan hafalan tanggal dan nama-nama pelaku itu. Siswa yang membacanya seolah diajak menonton film sehingga merasa menyaksikan peristiwa yang diceritakan dan digambarkan oleh komik itu.
Jika begitu, lalu apa masalahnya sehingga mitos anti komik masih beredar. Apa yang dikhawatirkan sebagian orang tua jelas bukan jenis komik-komik perjuangan seperti itu, apalagi komik semacam itu direkomendasi oleh Depdiknas, melainkan komik-komik seperti Batman, Superman, Tintin atau komik-komik Jepang yang sejak tahun 1995 mulai membanjiri Indonesia seperti Doraemon, Sailormoon dan kini Sinchan hingga Kungfuboy (Chin Mi). Juga komik-komik yang diterbitkan jagoan industri komik dunia Walt Disney dengan Mickey Mouse, Donald Duck, Goofy, Paman Gober dan sebagainya. Intinya komik yang full hiburan, menurut kaca mata orang tua atau bahkan pendidik.

Memang betul bahwa, tak bisa dipungkiri bahwa komik bisa punya pengaruh buruk. Seperti perpaduan pendapat Henny dan Jaya Suprana waktu itu, komik bisa membuat anak terpesona dan mempraktikkan adegan kekerasan yang dilakukan para jagoan di komik, atau adegan porno. Bahkan saat ini beredar komik Jepang (tentu saja sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) yang menyelipkan gambar kartun berbau pornografi. Komik jenis ini jelas harus dijauhi oleh anak-anak.

Jika ingin dicari jalan tengah, okelah komik-komik yang isinya mengajarkan ketidakpatutan bersikap sebaiknya dihindari untuk dibaca anak-anak, seperti yang pernah diprotes konsumen terhadap komik dan pemutaran film kartun Sinchan yang dianggap mengajarkan sikap ‘kurang ajar’ kepada orang tua. Namun apa dosa komik-komik seperti Batman, Superman, Dick Tracy, Tintin, hingga Asterix sehingga harus ‘diharamkan’. Tidak fair juga jika penolakan terhadap komik-komik asing itu dengan mengemukakan alasan anak-anak kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia karena akan lebih mengidolakan Superman ketimbang Gatot Kaca yang jagoan rekaan asli Indonesia.
Pasalnya, komik-komik lokal yang menampilkan tokoh-tokoh seperti Gatot Kaca justru tak berkembang. Lagi pula jika mau ditelusuri lebih dalam, meskipun telah menjadi ikon budaya Jawa, tokoh wayang Gatot Kaca bukan tokoh asli Indonesia, melainkan tokoh yang disadur dari cerita Bharatayuda dari India.

Jadi, seperti disimpulkan dalam catatan seminar enam tahun lalu itu, tergantung bagaimana anak, tentu saja atas bimbingan orang tua dan pembina mereka, memanfaatkan komik-komik itu. “Komik tak mampu berdosa atau berjasa tanpa ada yang merespons,” nilai Jaya Suprana. Atau dengan menentukan porsi waktu (timing) yang tepat dalam membaca komik. Tak bijaksana juga jika membiarkan anak-anak membaca komik di waktu belajar atau terlalu banyak membaca komik ketimbang membaca buku pelajaran. Sebagai perbandingan, ada baiknya mengetahui apa yang terjadi di dunia pendidikan Jepang, khasnya berkaitan dengan polemik perkomikan tadi.

Minat merupakan aspek kejiwaan yang bersifat abstrak. Minat baca sebagai bagian dari unsur kejiwaan yang abstrak, kehadiran dan keberadaannya selalu dikondisikan oleh aspek-aspek internal maupun eksternal. Sedangkan kemampuan berpikir kritis merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk melihat dan memecahkan masalah yang ditandai dengan sifat-sifat dan bakat kritis.
Anak usia SLTP (12-15 tahun) mulai memasuki kehidupan sosial yang luas. Pada masa inilah mereka juga mulai mengagumi tokohnya kemudian diserap sekaligus dijadikan sebagai model yang dapat diidentifikasi. Kehadiran komik dalam dunia bacaan remaja sangat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis remaja.

Di samping permasalahan mendasar akan perilaku tersebut muncul suatu fenomena ketika minat akan aktivitas membaca mulai berkembang pada golongan cinta pustaka atau masyarakat yang sudah faham dan sadar akan arti penting perilaku gemar membaca khususnya anak-anak dan remaja. Masalah tersebut yakni maraknya karya-karya terjemahan atau bacaan asing yang dienkripsi dengan menggunakan bahasa lokal.

Berbagai macam karya yang disukai oleh anak maupun remaja dalam bentuk komik, dongeng, cerita bergambar, cerita pendek maupun novel merupakan karya terjemahan yang mendominasi hampir di tiap-tiap toko buku dan penerbit lokal. Karya tersebut pada umumnya berasal dari Amerika dan Jepang. Sebut saja dongeng karya Hans Christian Andersen, komik Naruto, Death note, atau Spongebob lebih disukai oleh konsumen anak-anak dan remaja. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah tempat karya-karya lokal oleh para pembaca di indonesia?Apakah anak-anak bangsa kita mulai terdegradasi semangat nasionalismenya?

Berikut adalah komik-komik yang banyak dibaca oleh anak-anak
 Naruto
 Bleach
 Death Note
 One Piece
 Doraemon
 Detective Conan
 Crayon Shinchan dll.

Dengan komik anak-anak dapat memvisualisasikan imajinasi mereka. Menurut Kak Seto bagi anak-anak usia belajar dan tengah dalam perkembangan mental dan intelegensia serta kreativitasnya, membaca komik, seperti halnya menonton televisi, jika dilakukan dengan kadar secukupnya dan dengan fungsi sekedar untuk hiburan atau syukur jika untuk memperoleh informasi, sesungguhnya tidak usah begitu dikhawatirkan. Meskipun demikian psikolog yang dikenal dekat dengan dunia anak ini buru-buru menambahkan bahwa sebaiknya begitu anak dianggap lancar membaca, orang tua sebaiknya mulai memperkenalkan mereka pada buku teks (termasuk buku cerita), kemudian perlahan-lahan mulai ‘menyapih’-nya dari buku-buku bergambar atau komik.

Bila dilihat dari perspektif positif, sebenarnya fenomena tersebut merupakan sinyalemen positif terhadap pertumbuhan minat dan semangat membaca anak. Pola-pola budaya lisan yang dianggap konvensional dalam masyarakat perlahan mulai beralih pada ketertarikan terhadap aktivitas membaca. Anak maupun remaja yang sejak dini dikenalkan aktivitas dan perilaku gemar membaca akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk membentuk identitas dirinya dengan menemukannya dari bahan bacaan serta menyesuaikannya dengan kemauannya. Selain itu anak dan remaja tersebut cenderung lebih memiliki kemampuan berliteratur atau aktivitas mengekspresikan informasi sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan daya saing yang cukup dalam lingkungan pergaulannya. Dalam artian lain, karya terjemahan dapat dikatakan sebagai pemuas dahaga anak-anak akan bahan bacaan lokal yang selama ini lesu di pasaran.

Karya terjemahan juga dapat berfungsi sebagai katalisator terhadap berbagai budaya bangsa lain. Artinya, karya terjemahan merupakan jembatan perantara dalam pemahaman terhadap nilai moral dan budaya bangsa lain. Anak maupun remaja diharapkan dapat mengenal kebudayaan bangsa lain dalam mengkonsumsi karya terjemahan. Dari proses pengenalan atau gambaran budaya suatu negara maka akan terbentuk sikap saling menghormati antar sesama warga dunia karena anak Indonesia tidak mengalami kendala bahasa dalam membaca karya terjemahan tersebut.

Kesimpulan
Dalam manghadapi permasalahan ini seluruh elemen bangsa baik penerbit, masyarakat, pemerintah dan pihak terkait dituntut untuk bekoordinasi dalam memecahkannnya. Salah satu cara adalah dengan memberikan pemahaman, kontrol sosial dan budaya akan suatu bacaan. Karena tidak semua komik memiliki dampak yang negatif bagi anak-anak,namun juga ada segi positif yang dapat kita ambil dari membaca komik

3 thoughts on “Minat Baca Komik

  1. bosan penjelasan yg terlalu panjang… dari semua penjelasan tersebut yg saya baca awal dan akhir saja, coba pake ilustrasi gambar pasti menarik…

  2. terimakasih,
    izin ngutip pendapatnya ya untuk penelitian saya… ^_^
    trus, yg hasil seminar itu benar?
    kapan seminar itu dilaksanakan?
    dimana?
    pembicaranya siapa saja?
    terimakasih…. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s