Dialog dengan seorang nenek korban lumpur Lapindo

Hari itu sekitar pertengahan Oktober tepatnya hari sabtu aku baru saja pulang dari sekolah, ya melaksanakan rutinitas pada hari sabtu yaitu menjaga keamanan kegiatan bela negara yang sedang dilangsukan di sekolahku selama beberapa bulan. Aku adalah salah satu TDP (Tim Displin Pelajar) di sekolahku dan salah satu tugas TDP adalah menjaga keamanan.

Kegiatan telah selesai, namun karena pada hari itu temanku eka mengatakan tidak dapat pulang bareng, jadi aku pun pulang naik angkutan umum alias angkot. Untuk menuju rumahku aku perlu dua kali naik angkot. Lumayan jauh jarak antara sekolahku dan tempat tinggalku.

Aku naik angkot pertama, seperti biasa aku duduk di bangku dekat pintu masuk, aku memang senang duduk di sana, sebab aku dapat melihat keadaan di luar dan kadangkala sambil berkhayal juga..hehe

Di pertengahan jalan kemudian ada seorang nenek tua renta yang naik angkot tersebut dan duduk tidak jauh dariku. Seperti biasa aku memandangi kearah luar angkot, ya itu adalah hal yang menyenangkan bagiku, biarpun ramai tapi ada kesenangan tersendiri, aku pun berkhayal, banyak yang kukhayalkan. Mulai dari teman-teman di sekolah, tentang sekolah atau rencana-rencanaku untuk kedepannya. Tiba-tiba suara seseorang yang menanyakan “Sekarang jam berapa ya?” membuyarkan khayalanku. Setelah kutengok ternyata nenek itu yang bertanya. Aku menjawab “Jam 3 lewat 15 menit nek” nenek itu kembali bertanya “Oh… Kira-kira udah masuk ashar apa belum ya?” .“Oh… Belum nek, asharnya nanti jam setengah 4” jawabku sambil tersenyum. Nenek itu pun menjawab sambil tersenyum “Makasih ya nak..”

(Ini hanya sekadar foto yang kuambil dari internet)

Dialog aku tak berhenti sampai di situ. Aku kemudian melontarkan sebuah pertanyaan “Iya nek. O’ya nenek  memangnya dari mana?”

“Iya, nenek dari Surabaya nak, nenek ke sini sebenarnya mau mengungsi, soalnya kampung nenek udah kerendem sama lumpur, lumpur lapindo, lumpurnya belum berhenti, nenek jadi gak punya rumah. Bantuannya tidak begitu cukup. Keluarga nenek meninggal semua, suami dan cucu-cucu nenek, sekarang tinggal nenek saja. Nenek juga penasaran sama Kota Bekasi, belum pernah ke Bekasi soalnya..hehe” jawab nenek itu sambil tertawa dihiasi dengan giginya yang tinggal dua. Kemudian dia melanjutkan “Oh iya stasiun di deket sini di mana ya?”

“Wah nek, tadi udah lewat stasiun tuh, stasiun tambun, tapi di depan masih ada stasiun lagi kok nek. Emang kenapa nek kok nyari stasiun?”

“Buat nenek tidur nak, gak punya rumah soalnya nenek di sini. Tapi orang di sini baik-baik ya. Nenek sering di bantuin, kadang ada yang ngasih makanan juga. Udah kerja ya?”

Degh… Dalam hati aku berkata kasihan sekali nenek ini, sekarang hidupnya sebatang kara, sudah tidak punya rumah pula, mesti merantau ke tempat lain demi menyambung hidup dengan biaya seadanya. Sekalinya pergi ke tempat lain bukannya untuk menikmati hari tua tapi justru untuk melanjutkan sisa hidupnya yang masih diberikan Allah untuknya. Mungkin orang berkata bisa saja nenek ini hanya berpura pura agar mendapatkan belas kasihan dari orang lain, ya terserah itu tanggapan orang, tapi yang kulihat tidak ada kebohongan di guratan matanya.

“Ya Allah.. Turut berduka cita ya nek… Memang cucunya nenek sudah sebesar apa? Haha, belum kok nek, saya masih sekolah, SMA sekarang kelas 3”

“Iya makasih nak.. Wah, sama donk kayak cucu nenek, cucu nenek perempuan masih SMA juga. Nenek ingat, dulu nenek pengen ngasih dia motor buat berangkat ke sekolah, tapi dianya udah pergi. Nanti pas udah lulus mau kerja apa kuliah?” jawab nenek itu sambil tersenyum

Agak sedikit tidak enak juga jadinya… “Hmm… Saya mau lanjut kuliah dulu nek. Mohon do’anya ya nek”

Nenek itu menjawab dengan antusias, sambil memegang kedua tanganku “Iya pasti nenek do’a in, semoga dilancarkan sekolahnya, bisa lanjut kuliah ke universitas yang diinginkan dan bisa membahagiakan kedua orang tua terus juga bisa jadi kebanggan orang tua”

“Amien nek…… Makasih banyak ya! Nenek juga, semoga nenek sehat dan bahagia selalu, selalu dibawah lindungan Allah” balasku tak kalah antusias. Kami saling melontarkan senyuman.

Tak terasa angkot tersebut hampir sampai di tempat dimana aku harus melanjutkan perjalanan pulangku dengan naik angkot kedua. “Nek… Saya duluan ya, hati-hati nek, sehat dan bahagia selalu ya J” aku tersenyum sambil mengambil kedua tangannya dan meletakkan kedua tangannya di jidatku. “Iya nak, hati-hati ya” kembali nenek itu senyum terharu sambil memamerkan giginya yang juga bisa disebut ompong. Di luar mobil aku pun melambaikan tangan padanya.

Dialog yang tidak begitu panjang, namun memiliki kenangan tersendiri bagiku. Yang kupikirkan sekarang, bagaimana ya keadaan nenek itu? Semoga selalu di bawah lindungan Allah swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s