Contoh teks khotbah

KHOTBAH IDUL FITRI 1431 H

Hari/tanggal: Jum’at, 10 September 2010

Tempat: lapangan tenis perumahan Bumi Sani Permai

Nama Khotib: Drs. Muhammad Arifin

Judul Materi yang disampaikan: Makna Esensial Ibadah

Isi Materi:

“Makna Esensial Ibadah”

Assalamu’alaikum wr.wb

Pada pagi hari yang mulia ini kita kumandangkan Takbir, Tahmid, dan Tasbih sebagai rasa syukur kita kehadirat Allah swt. Karena pada hari ini Allah telah mengampuni dosa-dosa para hamba-Nya, mengabulkan do’a dan permohonannya dan Allah memandangnya dengan penuh kasih sayang.

Idul Fitri moment yang sangat penting karena dalam kondisi hati yang bersih dan suasana yang fitri ini memungkinkan kita untuk muhasabah (evaluasi dan instropeksi) dari seluruh aktivitas ibadah kita kepada Allah swt dan itensitas mu’amalah antar sesama.

Sudahkah sholat yang kita dirikan bisa berpengaruh terhadap perilaku keseharian kita, sebagaimana tujuan diperintahkannya sholat. Sudah sejauh mana puasa kita berdaya guna untuk mengendalikan diri dari perkataan dusta dan tindak durjana. Sudah samapai dimana keberanian kita mengelurakna zakat yang memang ada hak orang lain disana, serta pengorbanan kita dalam bersodakoh dijalan Allah swt. Dan sudah seberapa besar kesadaran kita yang sekian kali naik (ibadah) haji dan umroh tanpa mau peduli dengan saudara-saudara kita yang serba kekurangan.

Mari kita mencoba melakukan analisa untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Sehingga akan Nampak jelas apa kesalahan dan kekurangan kita serta apa yang harus kita lakukan. Karena perlu kita tahu bahwa indikasi dari setiap amaliyah itu diterima oleh Allah dan bernilai pahala atau tidak, adalah mana kala ibdah yang kita lakukan mampu menberi efek positif dalam merubah perilaku dan tindakan keseharian kita kearah yang lebih baik.

Kita kaji dalam beberapa sumber tentang kekurangan kita dalam beribadah, karena masih hanya sebatas mengandalkan kebaikan lahiriyah dengan mengabaikan upaya peningkatan aktivitas bathiniyah kita. Disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab Al- Majmu’ (1:52) dia berkata: “Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’ala dan Al-Bazzar, dan perowinya shohih. Rasulullah bersabda:

“Islam itu tampak nyata, sedangkan Iman itu ada dalam hati”

Islam meskipun diwujudkan dalam amala-amalan ibadah yang lahir, seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Namun seluruh amalan tersebut akan tidak diterima dan tidak diperhitungkan apabila tidak disertai dengan niat yang ikhlas karena Allah swt.

Sebagaimana firmaNya:

Al Bayyinah ayat 5
wamaa umiruu illaa liya’buduu allaaha mukhlishiina lahu alddiina hunafaa-a wayuqiimuu alshshalaata wayu/tuu alzzakaata wadzaalika diinu alqayyimati

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (1596), dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus

Jadi tidaklah diterima suatu amal kecuali dengan niat, dan niat akan tidak ada artinya kecuali dengan ikhlas, sedangkan niat dan ikhlas merupakan pekerjaan hati.

Abul Fadl Imam Ahmad bin Muhammad bin Adbul Karim bin Atho’illah dalam kitab Alhikam (hal:11) menyatakan:

“Amal itu ibarat gambar-gambar yang tepak, sedangkan ruhnya ialah adanya rahasia ikhlas di dalamnya”.

Yakni amal tanpa ikhlas itu seperti gambar dan patung yang tidak bernyawa dan tidak hidup.

Karena itu dilarang keras melakukan riya. Karena riya bisa menggugurkan ibadah dan menghapus ketaatan. Dan sifta riya ini merupakn sifat orang-orang munafik.

Dan lebih ekstrim sekedar menjadi warning, Imam Al-Mmundziri dalam kitab At-Targhib wattarib menuqil hadist shohih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, disebutkan bahwa pertama kali dinyalakannya neraka pada hari kiamat ialah karena tiga golongan manusia yang melakukan Riya (untuk mendapatkan pujian manusia ketika melakukan amal, bukan karena mencari ridho Allah swt)

Pertama, orang yang membaca Al-Qur’an dan mengajar agar dikatakan sebagai orang alim. Kedua, orang yang bershodaqoh dan menginfakkan hartanya supaya dikatakan pemurah. Ketiga, orang yang berperang dan berjuang sehingga mati agar dikatakan pemberani (pahlawan)

Nah, jika maka yang penting bukan untuk amalnya semata-mata, tetapi jiwanya. Terkadang suatu amal sudah dilaksanakan sesuai dengan bentuk yang dituntut, tetapi tidak diterima di sisi Allah swt. Karena ia hanya baik secara lahir, tetapi batinnya palsu, kalau diilustrasikan seperti uang palsu yang adakalanya laris dipergunakan kalangan awam, tetapi setelah diteliti tidak ada nilainya sama sekali.

Karena itu amaliyah madhloh yang kita kerjakan tidak mampu berefek pada perilaku dan sikap kesehariannya. Seperti disimpulkan didalam kitab Al-Mmukhtashor syarah Al-Jami’us shogir (2:213) Imam Bukhori, Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majjah dari sahabat Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah saw bersabda:

 

“Barang siapa yang tidak mampu meniggalkan perkataan dusta dan menyimpangdari kebenaran serta perbuatan durjana, maka Allah tidak memerlukan dia meniggalkan makan dan minumnya (pusanya)”.

“Banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala kecuali lapar dan dahaga, serta banyak orang mengisi kegiatan malamya tidak mendapatkan pahala kecuali begadang”.

 

Begitu pula tentang sholat kita bahwa Allah dalam Al-Qur’an tidak memuji orang-orang yang khusu’ dalam sholatnya” (Al Mu’minun :2).

Dan lebih jauh dari itu adalah tujuan diperintahkannya sholat sebagaimana firman-Nya:

“…dan dirikanlah sholat, sesugguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar…” (Al Ankabut :45)

Sebagaimana diterangakan pula tujuan diwajibkannya zakat dalam firman-Nya:

“Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka (dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap harta benda)…” At Taubah : 103

Juga tujuan difardukannya puasa dengan firmanNya (Al Baqaroh : 183)
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba ‘alaykumu alshshiyaamu kamaa kutiba ‘alaa alladziina min qablikum la’allakum tattaquuna

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh ibadah yang kita kerjakan baru akan bisa bermakna, bernilai pahala dan berdampak positif pada perilaku kesehariannya manakala ia dikerjakan atas dasar NIAT dan IKHLAS.

Oleh karena itu dengan spirit Idul Fitri yang sedang kita rayakan pada hari ini sebagai momentum yang sangat penting untuk kita mampu menjaga dan melestarikan kesucian hati kita ini dalam rangka menggoreskan tinta emas diatas kertas yang putih lagi bersih. Dan inilah hasil dari ibadah puasa kita dalam satu bulan penuh di bulan Ramadhan tahun ini. Semoga Allah akan senantiasa menganugerahkan taufik dan hidayahNya kepada kita dalam menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat ilahiyyah dan sunnah Rasulullah saw. Amien.

Semoga renungan khotbah yang singkat ini besar manfaatnya buat kita semua.

Amien.

Wabillahitaufik wal hidayah

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s