My First Love, My First Sacrifice

Kisah ini terinspirasi dari seseorang…

Aku membenarkan kemeja putihku. Ya hari ini adalah hari pertama ospek universitas. Tidak terasa aku sudah menjadi mahasiswa, masih teringat ketika aku masih dalam gendongan hangat ibuku. Waktu begitu cepat berlalu..

Aku tak mengenal seorang pun di sana, untunglah ada seorang wanita yang menyapaku dengan ramah. Ia bernama Tia, dialah orang pertama yang ku kenal saat ospek tersebut sampai aku bertemu dengan Sari. Selama masa ospek aku sering bertukar informasi melalui sms dengan mereka berdua. Namun saat pembagian kelas ternyata aku sekelas dengan Tia, sedangkan Sari berlainan kelas dengan kami berdua. Dari sinilah semuanya dimulai..

Hari pertama aku merasakan menjadi mahasiswa masih biasa saja belum ada tugas apa-apa. Seminggu setelah itu barulah tugas datang berbondong-bondong menyapaku. Pembagian anggota kelompok ditentukan oleh dosen secara random dan ternyata di kelompokku hanya akulah satu-satunya perempuan dan yang lain laki-laki. Total anggota kelompokku ada enam orang. Anggotanya aku, dimas, rangga, zaki, randy, dan bayu. Dan aku tidak tahu cinta pertamaku telah hadir saat itu…

Karena hanya aku satu-satunya perempuan di kelompok itu dan seperti yang sudah diketahui banyak orang kalau anak laki-laki itu mayoritas kurang rajin dalam pengerjaan tugas kelompok jadinya akulah yang memegang andil 90% dalam mengerjakan tugas kelompok itu. Yang lainnya hanya membantu mencarikan bahan kasarnya. Randy mengirim sms kepadaku “Tugas kelompoknya kayak gimana sih? Dikumpulinnya kapan?” Ku balas sesuai dengan apa yang ia tanyakan.

Hari-hari berjalan seperti biasanya. Aku berangkat ke kampus, mengerjakan tugas dan sebagainya. Seiring aku berjalan bersama waktu aku sudah mulai dekat dengan teman-teman sekelasku. Ada seseorang yang aku kagumi di kelas, dia bernama Adit. Dia bijaksana dan baik kepada semua orang, tahu bagaimana cara menghormati perempuan. Suatu ketika handphoneku berdering, kulihat ada sms dari seseorang yang tidak ada di kontak handphoneku. Dia bertanya mengenai apakah ada tugas untuk esok hari atau tidak. Karena penasaran ku tanya siapa pengirim sms itu. Dalam hati aku berharap bahwa Adit lah si pengirim sms itu. Namun, ternyata bukan Adit melainkan Randy. Agak kecewa aku saat itu.

Semenjak itu aku pun sering chat di fb, saling mengomentari status, atau mention di twitter. Ya dengan Randy tapi. Dia sering sekali minta permen kepadaku di kelas dan kadang-kadang suka jahil. Pernah suatu ketika dia menghilang, tidak ada di fb dan twitter. Aku bingung.. Apakah ini yang namanya cinta? Kagum? Atau hanya sekadar suka? Aku tidak tahu.. Tapi aku merasa ada yang hilang dariku. Namun itu hanya berlangsung seminggu. Saat semuanya sudah kembali normal seperti biasa dia sering menjahiliku. Lambat laun pun rasa kagum aku terhadap Adit pergi bersama angin.

Semakin hari aku semakin dekat dengan Randy. Lambat laun rasa nyaman itu hadir. Aku merasa nyaman berada di dekatnya, sikap jahilnya memang menyebalkan, tetapi aku selalu merindukan hal itu. Dia telah mewarnai kanvas putihku dengan sejuta pelangi di atasnya. Untuk pertama kalinya dialah yang mewarnai kanvas putihku, ya dia yang pertama. Dia selalu dapat membuatku tertawa, senyumnya bak embun di pagi hari yang menyejukkan, jahilnya seperti matahari, terik namun menghangatkan. Wajahnya seperti malam yang selalu mengantarku tidur hingga kadangkala aku melihat wajah itu dalam dunia mimpiku. Mungkin aku berlebihan, tapi aku baru pertama kali merasakan hal itu dan aku tidak tahu, dia seperti sungai dan aku pun ikut mengalir di dalamnya.

Hingga suatu ketika disaat dia ingin meminjam catatanku aku memberikan catatan sahabatku karena kebetulan catatanku tidak lengkap karena saat mata kuliah itu aku sedang dispen. Selang beberapa dari hari itu sahabatku  bercerita kepadaku bahwa dia menyukai Randy. Seperti kilat yang menyambar hatiku, sakit, aku tak berdaya, diam seperti patung di tengah derasnya hujan. Aku membalas perkataan sahabatku itu dengan senyuman, ya hanya itu yang mampu aku lakukan.

Dia berani.. Namun tidak sepertiku. Dia berani untuk menyapa Randy duluan, meminjam headphone nya, bahkan dia pun berani untuk menjahili Randy duluan. Mereka saling menjahili satu sama lain, tertawa bersama. Namun aku masih senang kadangkala di saat mereka sedang bercanda, Randy masih menjahiliku. Randy pernah menawarkanku untuk mengantarkanku pulang, tetapi aku menolaknya, aku tidak enak dengan Via. Pastilah ia sedih bila aku pulang bersamanya. Suatu ketika Via bercerita kepadaku bahwa Randy mengantarnya pulang karena Via yang memintanya. Saat itu.. Aku merasa apakah aku salah mengambil keputusan? Entahlah, aku masih belum bisa mendeskripsikan apa itu cinta, yang kulakukan selama ini hanyalah mengikuti kata hatiku, walau kadang itu sakit.. Via begitu baik kepadaku, ia selalu ada untukku kapanpun, terutama di saat aku jatuh, ia membantuku untuk kembali berdiri dan berjalan bersamanya untuk meraih impian kami. Dia tidak pernah membuatku kecewa. Itulah yang membuatku tak sanggup membuatnya menangis bahkan menghancurkan hatinya. Bila ia sedih karena Randy aku pun sedih, bila ia senang karena Randy aku pun ikut senang walaupun sebenarnya hati kecilku hancur.

Aku sedikit menjauhi Randy, aku takut bila aku selalu dekat dengannya rasa ini akan terus tumbuh. Perasaan ini ibarat bunga yang akan tumbuh bila disirami dengan perhatian dan kehadiran Randy. Itulah yang kutakutkan.. Namun yang pasti perasaan ini tak akan pernah mati.. Hanya berhenti untuk tumbuh..

Via berhasil mengikuti aliran sungai itu, yaitu Randy.. Kini ia sering bersama, sesekali Via dan Randy mengajakku jalan bersama, pergi ke kampus bersama atau juga ke seminar-seminar. Suatu ketika saat pergi ke sebuah perayaan, kami bertiga hampir saja di rampok oleh sekelompok penjahat namun untungnya ada polisi di dekat kami sehingga kami dapat selamat dari bahaya itu. Via dan aku tentulah sangat ketakutan, namun beruntung sekali Via, ada Randy yang merangkul pundak Via untuk menenangkannya yang sedang ketakutan. Randy.. Aku juga ingin seperti Via, aku juga takut, akankah tangan hangatmu itu bersedia menenangkanku juga? Aku gemetar karena kejadian tadi, melihat pisau perampok itu yang hampir mengenai leherku.. Hanya hati ini yang berani berkata, bibirku lumpuh hanya untuk mengatakan hal itu.

Randy cukup sering menanyakan kabar Via kepadaku, ya karena memang aku sahabat dekatnya. Tahukah kamu hatiku cemburu akan hal itu? Aku selalu memikirkanmu kapan dan di mana pun. Pernah kah dirimu memikirkanku meski sedetik pun? Kau selalu ada di depanku namun aku hanya ada di belakangmu. Maukah kau menengokkan kepalamu ke belakang sekali saja? Hanya untuk aku yang selalu memperhatikan dirimu dari belakang.

Aku pergi ke sebuah bukit di dekat rumahku, aku ingin menenangkan hati ini. Hijau rerumputan terhampar dalam gundukan-gundukan kecil. Bunga matahari dan ilalang bernari seirama dengan hembusan angin, ikut menyapa rambutku helai demi helai bernari di udara. Aku duduk di bawah pohon yang menundukkan dahannya ditemani gemericik air sungai, kupu-kupu dan burung-burung kecil yang seolah-olah ingin menghiburku. Senja.. Mengapa kamu selalu menghangatkan langit sore? Mengapa kamu hanya ada di sore hari? Senja.. Aku bingung, perasaan ini tumbuh begitu saja tanpa aku sadari dan tak mampu aku mengendalikannya. Salahkah aku mencintainya? Salahkah aku bertindak? Dia telah menumbuhkan benih-benih cinta di hati ini. Haruskah ku cabut bunga yang telah tumbuh di hati ini? Senja.. aku merindukannya, merindukan kehadirannya, merindukan perhatiannya, merindukan senyumnya dan merindukan sikap jahilnya. Aku tidak seperti Via yang leluasa mengatakan kangen kepada Randy. Senja.. Tentu Randy dapat melihatmu, sampaikan salam hangat rinduku kepadanya ya J

Aku bertahan dengan perasaan ini selama empat tahun hingga aku,Via dan Randy memperoleh gelar sarjana. Kami melanjutkan study kami ke tiga negara yang berbeda. Aku melanjutkan studyku ke Jepang, Via ke Amerika dan Randy ke Inggris. Kami berpisah di Airport.

Tips Jatuh Cinta Sama Sahabat

Kini aku bisa mendeskripsikan sedikit mengenai cinta

Cinta itu harapan.. Harapan orang yang kita cintai akan mencintai kita seperti kita mencintai dia

Cinta itu seperti pisau.. Ia dapat membantumu namun kadang ia dapat melukaimu

Cinta itu seperti semilir angin.. Yang tidak dapat kita lihat dan tidak diketahui kapan ia datang

Cinta itu seperti pelangi.. Indah.. Banyak juga kebahagiaan yang terkandung di dalamnya

Cinta itu seperti bunga.. Ia dapat tumbuh dengan indahnya bila selalu disirami dengan perhatian, kasih sayang, dan kesetiaan

Dan..

Cinta itu pengorbanan..

Aku mengorbankan orang yang aku cinta demi orang yang juga aku cintai, yaitu sahabatku, Via..

Tapi suatu saat nanti aku yakin bibir ini mampu mengatakan apa yang telah aku pendam selama ini.. Aku berjalan bersama waktu dan begitu pula waktu yang akan memberitahukanku kapan aku harus mengungkapkan semuanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s